Page 16 - TOTAL STATION
P. 16
2. Pengukuran seri
Apabila sudut yang akan diukur akan digunakan untuk menentukan koordinat
titik kontrol pada pemetaan, teknik pengukuran sudut tunggal tidak dibenarkan
tetapi teknik pengukurannya adalah pengukuran lebih dari satu kali (seri).
Terdapat dua cara pengukuran seri, yaitu seri tunggal dan seri rangkap/ seri
ganda. Untuk seri tunggal pelaksanaannya seperti pengukuran sudut tunggal
tetapi dilaksanakan pengukuran ulang, dari langkah 2 dan 3 sesuai dengan
banyaknya seri yang akan dilaksanakan. Sedangkan untuk seri rangkap,
pengukurannya dilakukan dengan posisi teropong biasa dan luar biasa.Cara
pengukuran sebagai berikut:
Setelah tahap ketiga (pada pengukuran tunggal), teropong diputar balik
menjadi kedudukan luar biasa dan dibidikkan kembali pada target C dan baca
penunjukkan bacaan arah horisontalnya misal R’2, kemudian dengan cara yang
sama bidikkan pada target di titik A baca penunjukkan bacaan arah horisontalnya
misal R’1.
Nilai/ besarnya sudut ß (B = biasa) = R2 – R1
ß (LB = luar biasa) = R’2 – R’1
β = β (B) + β (B)
2
Pengukuran dengan cara demikian, disebut pengukuran satu seri rangkap.
Apabila diperlukan lebih dari satu seri rangkap maka cara tersebut dilaksanakan
berulang, tetapi pada seri berikutnya pembacaan penunjukkan arah horisontalnya
diubah dengan menambah 90° atau nilai/ besaran yang lain.
Contoh:
Bacaan Lingkaran Bacaan Lingkaran
Arah Horisontal Horisontal
Alat Sudut
Bidikan
Bisa Luar Biasa
A 54° 13’ 36’’ 234° 13’ 35’’ 36° 55’ 21’’
O
B 91° 08’ 57’’ 271° 08’ 58’’ 36° 55’ 23’’
A 144° 13’ 35’’ 324° 13’ 37’’ 36° 55’ 22’’
+90°
B 181° 08’ 57’’ 1° 08’ 58’’ 36° 55’ 21’’
Tabel 5 1 Tabel Pengukuran Seri
16

